Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan

Haji: Miniatur Kehidupan


Tidak dapat disangkal bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang diimpikan oleh banyak orang, tidak saja karena memang salah satu dari rukun Islam, tapi juga karena prestise sosial yang dilahirkan. Ketika seseorang telah melaksanakan ibadah haji maka sang haji itu akan dipandang sebagai seorang agamis, dan bahkan secara sosial juga memiliki posisi lebih. Hal itu karena memang untuk melaksanakan haji memerlukan dana, dan terkadang juga koneksi jabatan, yang baik.

Hal inilah yang menjadikan calon jamaah haji dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan, bahkan di saat terjadi ekonomi krisis sekalipun. I beberapa daerah antrian pun semakin lama, bahkan mencapai puluhan tahun. Tentu ini menggembirakan, tidak saja karena itu adalah tanda semangat berislam masyarakat yang semakin baik, tapi juga bisa jadi indikasi kemakmuran rakyat yang semakin meningkat.

Penantian panjang sebagian calon haji ini menjadikan saya terpikir apakah tidak masanya bagi Majelis Ulama Indonesia untuk menfatwakan bahwa haji berkali-kali bisa, tidak saja bukan prioritas, tapi merampas hak orang lain untuk melakukan kewajibannya. Artinya, perlu ada himbauan keagamaan dan aturan pemerintah yang jelas agar “haji sunnah” (kedua dan seterusnya) itu bisa dikategorikan perampasan hak orang lain?

All-inclusive dan ibadah kehidupan

Ibadah haji adalah ibadah yang bersifat menyeluruh. Artinya ibadah haji itu mencakup seluruh rangkaian ibadah-badah ritual dan bahkan non ritual dalam Islam. Ambillah misalnya kelima rukun Islam, semuanya terwakili dalam ibadah haji itu. Ibadah haji mencakup shalat, puasa, zakat, dan sudah pasti bahwa ibadah haji dimulai dengan afirmasi tauhid “laa ilaaha illa Allah”.

Nilai-nilai yang hadir dalam ibadah haji juga menggambarkan praktek-praktek sosial Islam, baik pada tataran individu maupun tataran kemasyarakatan. Urgensi menghindari kata-kata kotor (rafats), dosa (fusuq) dan bahkan argument (jidaal) hingga kepada menyatunya jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia mengajarkan nilai sosial Islam yang universal.

Oleh karena itu maka haji mencakup seluruh bentuk ibadah dan praktek Islam. Oleh karenanya sangat wajar jika ibdaha haji merupakan rukun Islam kelima (terakhir) dan merupakan kewajiban hanya sekali dalam seumur. Karena memang ibadah haji menyimpulkan, tidak saja ibadah ritual Islam, tapi sekaligus menjadi miniature kehidupan manusia itu sendiri.

Di sinilah kemudian disimpulkan bahwa salah satu makna haji adalah “hujjatun” (dalil, dasar, tanda, alasan). Karena haji dimaksudkan untuk menjadi dasar atau tanda komitmen seseorang untuk menyempurnakan keislamannya. Dan ini pula yang menjadikan hampir semua amalan-amalan ritual haji berkaitan erat dengan sirah perjalanan hidup Rasulullah, Ibrahim AS. Karena memang beliau dipersaksikan dalam Al-Qur’an sebagai Muslim yang telah menyempurnakan agama: Wa Ibrahim alladzi waffa (Dan Ibrahim yang telah menyempurnakan). Juga di ayat lain: Wa idzibtalaa Ibrahima Rabbuhu bikalimaatin fa atammahunna (Dan ingat ketika Allah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat, dan dia menyempurnakannya)

Zaad: Persiapan hidup

Hampir tidak ibadah dalam Islam yang secara khusus memiliki perintah untuk memersiapkan kecuali haji. Perintah itu didapatkan di dalam Al-Qur’an: Watazawwadu fa inna khaeraz zadi at-taqwa (bersiap-siaplah dan sebaik-baik persiapan itu adalah ketakwaan).

Hal ini menjadi urgen karena memang ibadah haji adalah perjalanan yang suci yang memerlukan persiapan yang menyeluruh. Persiapan menyeluruh yang dimaksud adalah persiapan materi/fisik, mencakup harta dan kesehatan badan. Juga persiapan akal/ilmu, minimal pengetahuan dasar tentang manasik haji. Dan juga persiapan mental/spiritual atau persiapan hati yang matang. Bahkan ini seharusnya dominan sehingga Al-Qur’an mengatakan “sebaik-baik persiapan adalah ketakwaan”.

Kalau saja kita hubungkan antara perjalanan haji dan kehidupan manusia maka relevansinya semakin jelas ketika kita pahami bahwa kehidupan manusia itu sesungguhnya juga adalah perjalanan suci (ibadah). Kehadiran kita di atas dunia ini tidak lain adalah: “Tidaklah sesungguhnya Kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Oleh karenanya kehadiran kita atau tepatnya perjalanan dunia kita adalah untuk beribadah maka perjalanan ini harus dipahami sebagai “perjalanan suci”.

Sebagaimana haji, perjalanan suci kehidupan ini tidak akan efektif dan terpenuhi (fulfilling) kecuali jika dipersiapkan secara sempurna. Dan persiapan yang sempurna itu hanya dengan tiga hal tadi; persiapan fisik/materi, persiapan akal/ilmu dan persiapan mental atau hati. Ketiga hal inilah yang akan menjadi dasar pembangunan kemanusiaan kita yang sempurna. Manusia yang memiliki kapasitas materi/jasad, akal/ilmu dan hati.

Dan ketiga hal itu menjadi kunci risalah Islam dalam menuntun manusia menjalani kehidupan ini.

Ihram: fitrah, visi hidup dan kematian

Ihram adalah amalan pertama dalam proses perjalanan suci itu. Ihram dimulai dari tempat tertentu (maqam) dan ditandai dengan mengganti pakaian keseharian dengan dua potong kain sederhana. Ihram menjadi rukun pertama haji sekaligus menentukan arah perjalanan selanjutnya.

Ihram sesungguhnya adalah kata lain dari niat memulai perjalanan haji itu. Hanya saja niat dalam berhaji dan umrah disebut ihram karena memiliki konotasi luas. Yaitu bahwa ihram menyimbolkan visi hidup manusia secara keseluruhan. Bahwa perjalanan hidup itu memerlukan niat yang jelas, yaitu: Labbai allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulk laa syarika lak”.

Niat awal perjalanan haji adalah memenuhi panggilan Allah: Labbaik! Dan visi perjalanan hidup manusia juga tidak lain adalah memenuhi panggilanNya untuk semata beribadah kepadaNya: Liya’budu Allah mukhlishna lahuddin.

Dimulainya perjalanan haji ini dengan “ihram” dan komitmen “Labbaika laa syarika laka labbaik” juga mengajarkanb bahwa perjalanan hidup manusia itu memang dimulai dengan komitmen: tauhid. Tauhdi ini terpatri dalam firah setiap insan yang memang lahir dalam keadaan fitri (suci).

Pada akhirnya ihram juga disimbolkan dengan mengganti pakaian dengan dua potongan kain sederhana. Menggambarkan bahwa simbol-simbol sosial dunia kita akan berakhir dengan kesederhanaan. Kita hadir dengan ketiadaan, kesederhanaan, dan kitapun akhirnya akan kembali dengan hal yang sama. Dunia ini apapun bentuk dan warnanya hanya sementara dan akhirnya kita akan kembali kepadaNya tanpa kebanggaan-kebanggaan sosial itu lagi.

Arafah: Affirmasi kesadaran Tauhid

Al-hajju Arafah, sabda Rasulullah SAW. Bahwa intisari haji itu ada pada wukuf di Arafah. Kenapa demikian? Karena memang di sanalah sebelum memulai langkah selanjutnya para hujjaj berjuang menemukan diri dalam samudra kebesaran “DIA”, yang menciptakan dan merajai langit dan bumi. Sehingga sangat wajar jika dzikir yang terafdhol di Padang Arafah adalah: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarika lahu, lauhl mulku walaul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa alaa kullli syaein qadir.

Perjalanan suci ini tidak akan sama sekali diterima, tidak dengan kaffarah sekalipun jika tidak dilaksanakan atau sah. Sehingga siapapun yang berhaji dan dalam kondisi bagaimanapun, walau sakarat, harus dibawa ke padang Arafah walau sesaat agar hajinya diterima.

Demikian pula perjalanan suci kehidupan manusia. Tanpa kesadaran Tauhid, Laa ilaaha illa Allah, maka perjalanan itu menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Hanya dengan dasar tauhid hidup manusia akan memiliki makna dan tujuan yang jelas, dan apapun yang terjadi setelah itu akan selalu ada solusi. Dengan “laa ilaaha illa Allah” manusia akan hidup dengan jaminan keselamatan.

Sebaliknya tanpa laa ilaaha illa Allah, atau ketika kehidupan dipenuhi oleh kesyirikan (akibat hilangnya tauhid) maka kehidupan itu menjadi kehidupan amburadul dan membawa kepada kecelakaan. Itulah init dari seseorang yang meninggal dalam keadaan syirik, maka dia tidak akan bisa diampuni dan mendapatkan kecelakaan abadi itu.

Sebaliknya, dengan kehadiran tauhid dalam kesadaran manusia makan akan terjadi keselamatan dunia akhirat, sekecil apapun itu: Man kaana fi qalbihi midzqala habbatin min khardalin minal iman, dakhalal jannah (siapa yang memiliki iman dalam hatinya walau sebesar dzarroh, maka dia akan masuk surga).

Cycles of life

Kehidupan manusia adalah perjalanan yang berputar dari satu titik poin ke titik poin yang sama. Dari satu poros ke poros yang sama. Ini yang digambarkan dalam ayat Al-Qur’an yang biasanya teringat ketika seseorang meninggal dunia: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kehidupan manusia memang berputar dan terus berputar tanpa henti. Dan manusia hanya dua pilihan; melakukan irama pergerakan bersama dengan kehidupan itu atau tergilis oleh pergerakan kehidupan itu. Hidup naik dan turun, berubah warna warni dari satu masa ke masa yang lain.

Di saat menjalankan ibadah haji, ada sebuah amalan penting yang menggambarkan ini. Tawaf berarti berjalan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh keliling. Dimulai dari arah hajar aswad, sebuah sudut yang diyakini tertempel bau hitam yang terjatuh dari syurga (awalnya putih bersih). Dan juga berakhir di sudut yang sama.

Ketika bertawaf akan terjadi keadaan berbeda-beda. Terkadang lancar, terkadang penuh sesak. Terkadang damai dan lancar, terkadang penuh gesekan dan desakan. Manusia juga secara bergelombang ada yang keluar (meninggalkan) dan ada juga yang masuk memulai tawaf.

Sesunggunya semua keadaan tawaf itu menggambarkan perputaran kehidupan manusia. Bahwa dalam perjalanannya ada masa ketika keadaan menjadi tenang, damai dan lancar, da nada masa di mana terjadi sebaliknya. Dalam kehidupan manusia juga terjadi gelombang pergantian. Ada yang keluar (meninggal) da nada yang masuk (datang atau lahir) ke dalam kehidupan itu.

Apapun itu, kedua perputaran ini (tawaf & kehidupan manusia) memiliki hal yang mutlak menjadi pegangan. Yaitu menjadikan Ka’bah berada pada titip poin (sentra) perputaran. Artinya apapun keadaan di mesjdil haram, ka’wab harus tetap menjadi acuan perputaran. Ka’bah sebagai simbol “Al-Haqq” itu sesungguhnya juga mutlak menjadi “titik poin” prjalanan suci kehidupan manusia.

Itulah sesunggunya makna: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! Kita dari Allah, milik Allah, dan akan kembali kepada Allah semata…Allah SWT pusat kehidupan itu.

Kejar kehidupan

Tak lama berselang Nabi Allah, Ibrahim AS, meninggalkan anak dan isteri tercintanya di tempat yang tiada tumbuh-tumbuhan itu (waadin ghaeri dzi zar’in), sang isteri, Hajar AS, pun kehabisan perbekalan. Bahkan air susu untuk menghidupi anaknya pun telah kering.
Dalam keadaan bingung itu beliau menengok ke arah sebuah bukit kecil (Sofa), persis sebelah kanan arah hajar Aswad di ka’bah. Beliau seolah melihat ada genangan air di atas bukit itu. Beliau berlari ke sana untuk mendapatkan air itu. Tapi apa dikata, ternyata apa yang dilihat itu hanya sekedar fatamorgana semata.

Beliau menengok ke belakang ke sebuah bukit seberang (Marwah) sekali lagi beliau seolah melihat genangan air. Hajar pun berlari menuju bukit itu tapi beliau tidak menemukan apa-apa. Kepanikan menjadikan beliau berlaridari bukit satu ke buki yang lain itu hingga tujuh kali, dan akhirnya terdengar tangisan anaknya. Tangisan ini menyadarkan beliau untuk segera menghentikan itu dan kembali melihat anaknya itu.

Tanpa disangka dan diluar perkiraannya, ternyat dari bawah kaki anak yang masih bayi itu keluar air yang segar untuk diminum. Saking banyaknya Hajarpun berteriak: Zammi, zammi, zammi! (berhenti, berhenti, berhenti).

Itulah sekilas cerita perjuangan Hajar, istri Ibrahim dan ibu Ismail AS. Sebuah perjuangan suci dalam menggapai rezeki Allah demi kelanjutan hidupnya dan anaknya. Berjalan dari bukit Sofa ke bukit Marwah mencari air (sumber kehidupan), tapi Allah memberikannya dari tempat yang lain.

Manusia dalam kehidupannya juga diperintahkan untuk berusaha (sa’yun) semaksimal mungkin untuk menemkan rezeki itu. Tapia da satu hal yang mutlak dipahami bahwa tugas manusia hanya berjalan dan berjalan untuk menemukan air kehidupan itu. Namun bukanlah hak manusia untuk menentukan di mana dan berapa banyak air yang akan ditemukannya. Karena memang hasil akhir itu adalah hak prergatif Allah, Yang Ar-Razzaq al-Alim.

Musuh abadi

Ketika Allah menurunkan Adam ke atas bumi ini, Allah berpesan: Turunlah kamu semua ke atas bumi ini dalam keadaan bermusuhan (Adam dan Iblis).

Ayat itu mengindikasikan bahwa mansia itu hidup dengan musuh yang nyata (aduwun mubin). Musuh manusia itu adalah musuh yang sejak awal berikrar untuk menyesatkan anak-cucu Adam AS, bahkan memohon agar diberikan kesempatan hingga akhir hayat dunia ini (ilaa yaumi yub’atsun).

Kesadaran permushan abadi inilah yang diajarkan oleh haji ketika berada di Muzdalifah dan Mina. Persiapan peperangan abadi itu dipersiapkan dengan dzikir, persiapan hati: Wadzkurullah indal masy’aril haram di Muzdalifah. Keesokan harinya dilanjutkan dengan peperangan langsung untuk memusnahkan musuh itu (melempar jumrah), yang dimulai dari musuh terbesar (jamrah kubra). Musuh terbesar manusia itu ada pada dirinya sendiri. Ketika musuh itu tertaklukkan, maka musuh-musuh yang lain sangat mudah dikalahkan.

Amalan-amaln ritual Muzdalifah dan Mina inilah merupakan amalan terpanjang dalam perjalanan haji ini. Sekaligus menandakan bahwa permusuhan dan peparangan itu memang bersifat abadi. Manusia harus menghadapi musuhnya secara serius dan konsisten. Tidak bermusuhan selalam sebulan (Ramadhan) tapi bersahabat selama 11 bulan lainnya.

Universalisme Islam

Tidak ada perintah ibadah dalam Islam yang dalam perintahnya Allah memakai kata: Wahai manusia, kecuali haji. Dalam Al-Qur’an di sebutkan: Walillahi alan-naas hijjul baeti (Dan untuk Allah manusia hendaknya melakukan haji ke baitullah). Ketika Ibrahim diperintah untuk mengumumkan kewajiban haji, Allah mengatakan: Wa azdzdin fin-naas bilhajji (Kumandangkan kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji).

Di sinilah haji hadir mengingatkan akan universalisme ajaran Islam. Bahwa Islam itu adalah agama manusia seluruhnya, tanpa ikatan dan kaitan sekat-sekat etnik, ras dan bangsa. Dan karenanya Islam adalah agama global yang hadir untuk seluruh alam. Allah adalah Tuhan manusia dan alam semesta, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, dan Rasul adalah kasih sayang untuk seluruh alam semesta.

Haji mengingatkan bahwa warna kulit, fortur tubuh, status sosial dan ekonomi, bahan afiliasi partai politik, bukanlah penentu kemuliaan seseorang disisi Tuhannya. Kemuliaan hanya ditentukan oleh satu faktor saja, yaitu ketakwaan yang didasarkan kepapa hati dan karya (iman dan amal) saja.

Ibadah haji juga mengingatkan bahwa umat ini adalah komunitas yang paling siap menghadapi abad globalisasi. Karena seseungghnya umat ini telah persiapkan untuk memasuki era global sejak abad ke tujuh. Rasulullah adalah sosok yang locally acted, but globally thought. Pikiran beliau menjamah barat dan timur, utara dan selatan dunia kita.

Haji mabrur dan transformasi kehidupan

Harapan tertinggi dari setiap jamaah haji adalah untuk mendapatkan haji mabrur. Tapi apakah haji mabrur itu? Haji mabrur adalah haji yang telah dilakukan secara baik sehingga membawa kepada proses perbaikan. Intinya adalah bahwa haji mabrur itu adalah haji yang diterima karena dilakkan dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu ridho Allah SWT.

Masalahnya adalah diterima atau tidak sebuah amal itu memang ada di rahasia Ilahi. Tak seorangpun yang bisa tahu apakah amalnya diterima atau ditolak. Akan tetapi ada tanda-tanda yang bisa terlihat dari kehidupan seseorang, jika ibadahnya itu diterima atau tidak.

Dalam haji, sesungguhnya tanda-tanda itu dapat dilihat pada perubahan hidup seorang haji. Seseorang dapat melihat kenyataan hidupanya sebelum dan sesudahnya, apakah ada perubahan ke arah yang lebi baik dan positif atau sebaliknya kembali seperti semula, yang kemungkinan kurang baik? Atau boleh jadi setelah haji kehidupannya justeru akan lebih negative, mungkin karena pengaruh prestise hajinya?

Intinya adalah haji mabrur itu harus membawa transformasi kehidupan manusia. Ini yang disebutkan dalam bahasa hadits sebagai: kayaumi waladthu ummuhu (ibarat di hari dia diahirkan oleh ibunya). Bahwa haji mabrur akan menjadikan sesoerang memiliki jiwa atau hati yang fitri (bersih) dan prilaku akhlak, baik secara vertical maupun horizontal yang lebih baik.

Jangan sampai seseorang itu berhaji berkali-kali, tapi juga korupsi menjadi-jadi. Jadilah gelar haji sekedar hijab an bahkan justifikasi kehidupan yanag semakin keji. Wal’iyazdu bilah!

Husnul khatimah

Akhirnya sebagai penutup dari seluruh rangkaian perjalanan haji itu, sebelum meninggalkan tanah suci, jamaah haji diwajibkan untik melaksanakan satu lagi amamaln ritual, yaitu tawaf wada’ (tawaf selamat tinggal).

Amalan ini menjadi sangat krusial karena merupakan simbolisasi akhir perjalanan hidup dengan penutup yang baik (happy ending). Jangan sampai perjalanan haji itu justeru ditutup dengan kesibukan berbelanja, apalagi bergosip dan fitnah. Oleh karenanya sebelum meninggalkan kota Mekah hendaknya dilakukan dengan melakukan tawaf wada’.

Harapannya, semoga di akhir perjalanan suci kehidupan manusia itu ditutup dengan tawaf. Tawaf yang menggambarkan di mana Allah (kebenaran) tetap menjadi “pusat” kehidupan. Dan sesungguhnya inilah makna ketika Rasulullah SAW bersabda: Maka barangsiapa yang kata-kata terakhir yang diucapkan adalah Laa ilaaha illah Allah, dia masuk ke dalam syurga.

Dan ini pula yang diistilahkan sebagai mati dalam keadaan “husnul khatimah”. Semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah!

Penutup

Demikian sekilas makna-makna haji dakm kehidupan manusia. Hal ini sangat penting untuk diselami karena selama ini jangan-jangan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beribadah dan sekedar menghitung-hitung pahala. Seolah-olah syurga Allah daoat dibeli dengan jumlah pahala yang telah kita dapatkan. Padahal, seseorang masuk syurga tidak juga karena amalnya taoi karena rahmah Allah SWT.

Yang lebih payah, karena ibadah-ibadah yang kita lakukan disibukkan dengan hal-hal fiqh yang terkadang penuh dengan khilafiyah, bahkan membaa kepada perpecahan, menyebabkan ibadah itu kering tanpa bekas dalam prilaku sosial pelakunya.

Dan kalau ini terjadi maka itulah kebangkrutan yang paling menakutkan. Ketika manusia menghadap Allah dan bangga dengan semua amalan ibadahnya tapi justeru ibadah-badah itu tidak dapat menyelamatkannya dari dosa-dosa sosial yang pernah mereka lakukan. Wal’iyadzu billah!

Imam Shamsi Ali*
* Presiden Nusantara Foundation dan Direktur Jamaica Muslim Center, Queens-NY.
0 komentar

Metode Baru Lihat Hilal, Lewat Astrofotografi


Metode baru untuk melihat hilal atau pergantian bulan diperkenalkan. Metode Rukyat Qobla Ghurub (RQG), menggunakan pendekatan astrofotografi, dengan merekam dan memotret pergerakan bulan secara visual dan gambar sebelum matahari tenggelam.

"Pembuktian pergantian bulan tidak perlu menunggu saat matahari tenggelam, tapi bisa dipantau saat siang hari ataupun pagi hari. Proses pergantian itu akan dipotret dan direkam video selama 2-3 jam" kata inisiator metode RQG, Agus Mustofa, saat Workshop Astrofotografi di Surabaya, Sabtu (26/4) kemarin.

Dia mencontohkan, tahun ini diperkirakan pergantian bulan kalender Hijriyah dari Bulan Sya'ban ke Ramadan akan terjadi pada 27 Juni 2014, pukul 15.09 WIB. Tim astrofotografi sudah bisa memotret dan merekam posisi bulan sebelum ijtimak dan sesudahnya di waktu ashar.

"Sementara itu, petugas rukyat pemerintah masih akan menunggu saat-saat magrib, di mana hampir bisa dipastikan bulan sabit atau hilal tidak akan terlihat di tahun ini, disebabkan ukurannya yang masih sangat tipis, yakni, hanya sekitar 0,5 derajat saja," tambahnya.

Dengan kondisi itu, kata Agus, para penganut hisab akan memutuskan Ramadan sudah datang, dan akan memulai puasa pada 28 Juni 2014. Sedangkan, para penganut rukyat, karena tidak bisa melihat hilal, baru akan memulai puasa pada 29 Juni 2014.

Tetapi, jika pemerintah bersepakat dengan hasil pemotretan dan rekaman video astrofotografi ini, bisa dipastikan awal puasa tahun ini akan terjadi bersamaan. "Karena, bulan sabit sudah akan terlihat dan bisa dibuktikan secara visual dengan foto maupun video pada sore hari, sekitar pukul 15.09 WIB di tanggal 27 Juni 2014," kata Agus. (Achmad Faizal/Kompas.com)
0 komentar

Berpegang Teguh Kepada Al-Qur`an


Zaman sudah semakin tua, fitnah dunia semakin hari semakin merajalela. Benar dan salah semakin sulit dibedakan. Kadang yang benar menjadi salah, kadang yang salah menjadi benar. Pemahaman-pemahaman baru semakin bermunculan. Beberapa bahkan merusak sendi-sendi agama. Tak pelak, banyak umat muslim yang terbawa arus, tersesat di jalan yang salah.

Melihat fenomena ini tentu akan sangat berbahaya bagi masa depan umat muslim nanti. Sedikit saja kita salah melangkah, bisa-bisa kita malah semakin bergerak ke arah yang salah. Tentu sebagai muslim kita tidak ingin melangkah ke arah yang salah, maka dari itu sudah seharusnya kita mulai mendengarkan apa yang pernah Nabi Muhammad Saw wasiatkan kepada kita;

“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga)". (HR. Imam Malik)

Sejalan dengan apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw, maka kita memang harus kembali berpegang teguh kepada Al-qur'an dan Sunnah agar kita selamat di dunia dan akhirat. Mengapa demikian? Karena Al-qur'an dan Sunnah adalah pegangan hidup manusia yang hanya dengan keduanya maka manusia akan terbimbing dari kegelapan menuju ke cahaya yang terang benderang, yaitu menuju jalan Allah. Seperti apa yang dikatakan Allah melalui firmannya;

"(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. Ibrahim : 1).

Sebagai pedoman hidup, Al-qur'an dan Sunnah sudah sangat sempurna karena didalamnya mengandung segala aspek kehidupan yang berkenaan dengan kehidupan kita di dunia. Didalamnya juga terkandung berbagai pokok-pokok, nilai-nilai moral dan norma-norma hukum yang mengatur hubungan manusia akan dirinya, hubungan manusia dengan manusia lainnya, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan penciptaNya.

Al-qur'an tiada lain adalah sumber ajaran agama Islam, karena itu untuk menjadi muslim seutuhnya kita harus benar-benar mempelajari Al-qur'an, dari mulai membaca, mengkaji, hingga mengamalkannya. Maka akan sangat mengherangkan ketika kita yang mengaku sebagai umat Islam, enggan untuk mempelajari Al-qur'an yang tiada lain adalah sumber ajaran agama Islam. Bagaimana bisa kita mengaku sebagai umat Islam tapi mempelajari Al-qur'an pun kita tidak pernah.

Itulah akar permasalahan yang terjadi di tubuh umat muslim sekarang. Ketertarikan untuk mempelajari Al-qur'an dikalangan umat Islam terutama para generasi muda sangat minim sekali. Kita semua tentu sudah tahu bahwa kedudukan Alquran adalah sebagai sumber ajaran agama Islam sekaligus sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Namun pengetahuan tersebut seringkali tidak dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya mempelajari Al-qur'an sehingga tidak timbul keinginan didalam hati kita untuk sungguh-sungguh mempelajari Al-qur'an, sehingga akhirnya Al-qur'an menjadi terabaikan oleh kita.

Dan Rasul (Muhammad) berkata: ”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan”. (QS. Al-Furqan : 30)

Sejatinya, kehadiran Al-qur'an adalah merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia. Allah menurunkan Al-qur'an agar kita umat manusia selalu terbimbing dan tidak salah arah dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Pun begitu dengan Nabi Muhammad Saw yang mewasiatkan agar kita selalu berpegang teguh kepada Al-qur'an. Wasiat tersebut adalah curahan kasih sayang Nabi Muhammad yang begitu mencintai umatnya sehingga Beliau tidak ingin jika umatnya kelak menjadi tersesat.

Marilah kita sambut kasih sayang Allah dan Rasul-Nya dengan kembali kepada Al-qur'an dan Sunnah. Di zaman yang semakin tua ini, di zaman yang semakin samar perbedaan antara benar dan salah, di zaman yang semakin diselimuti kegelapan ini, mari kita tuntun diri kita menuju cahaya, menuju jalan Allah dengan sungguh-sungguh berpegang teguh kepada Al-Qur'an dengan mempelajarinya, dari mulai membaca, mengkaji, dan mengamalkannya didalam kehidupan.
0 komentar

Memperebutkan Jabatan dan Kedudukan

Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

Dalam sebuah berita di media massa, saat ini banyak anak pejabat dan kepala daerah yang berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif. 

Jabatan publik seperti anggota legislatif sepertinya menjadi jabatan turun temurun di negeri ini yang diperebutkan. Dari sisi peraturan perundang-undangan sebenarnya sah-sah saja. Namun secara etika, sungguh tidak pantas jabatan publik dilakukan secara turun temurun.


Dalam koridor Islam, jabatan merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan diminta pertanggungjawabannya kelak.

Jabatan merupakan amanah dan pengabdian bukan untuk mencari ketenaran serta menumpuk kekayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Abdurrahman bin Samurah:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Dalam sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?”

Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. ” (Shahih, HR. Muslim).

Memang, pada dasarnya, setiap manusia menginginkan menjadi pemimpin yang memiliki sebuah jabatan penting. Terlebih saat ini jabatan publik seperti anggota legislatif dijadikan lambaian rupiah (uang dan harta) dan kesenangan dunia lainnya.

Sungguh benar sabda Rasulullah ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari).

Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ dibidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya kampanye, dan sebagainya.

Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.” 

Semoga saja itu tidak terjadi di Indonesia, negeri tercinta. (ROL)
2 komentar

Jangan Dekati Zina

Apabila perzinaan sudah meluas di masyarakat dan dilakukan secara terang-terangan (dianggap biasa),maka infeksi dan penyakit mematikan yang sebelumnya tidak terdapat pada zaman nenek moyangnya akan menyebar di antara mereka.

Seperti kita ketahui, penyebaran AIDS bisa melalui tranfusi darah, alat-alat kedokteran gigi maupun jarum suntik. Namun, penyebaran AIDS yang paling hebat dan sangat mendasar adalah lewat praktek-praktek prostitusi. Ini terbukti, di mana banyak prostitusi, di situ penyakit yang mematikan itu tumbuh subur.

Sebagai muslim, sebetulnya kita tidak perlu khawatir terhadap serangan AIDS, asal -- tentu saja -- kita menaati ajaran agama. Dalam Alquran, Allah telah memberikan kiat penangkal penyakit yang berbahaya itu. ''Wala taqrabu al-zina(Janganlah mendekati zina)'' (Q.S. 17:32).

Kalau kita renungkan, tampaklah bahwa ayat di atas sangat antisipatif: Allah menjaga orang-orang beriman dari bahaya-bahaya yang akan diakibatkan oleh perzinaan. Jangankan melakukan, mendekat pun kita sudah tidak diperbolehkan oleh Allah. Sebab Allah Mahatahu sifat manusia yang apabila mendapat satu, dia menginginka yang kedua, mendapat yang kedua, dia menginginkan yang ketiga dan seterusnya, hingga terjadilah perzinaan itu.

Apabila kita mampu menaati perintah Allah tadi, insya Allah kita akan terbebas dari azab Allah yang ditimpakan kepada kaum yang tidak mau menjaga farajnya, baik azab dunia, terlebih-lebih azab akhirat. Dalam ayat lain disebutkan bahwa orang yang menjaga kemaluannya akan beruntung (Q.S. 23:5). Jika sekarang digalakkan kampanye penanggulangan AIDS yang dilakukan oleh orang-orang terkenal, nampaknya seperti suatu hal yang sia-sia. Karena banyak usaha tersebut tidak sejalan dengan aturan Allah, bahkan ada yang sangat nyata-nyata menentang aturan Allah, misalnya menyediakan kondom bagi pelaku pelacuran.

Mengatakan AIDS adalah penyakit kutukan secara membabi buta barangkali tidak begitu tepat. Namun kita tidak ragu-ragu mengatakan bahwa AIDS adalah azab dunia bagi para pezina. AIDS harus disikapi dari dua dimensi: duniawi dan ukhrawi.

Dalam dimensi duniawi, AIDS mungkin bisa menyerang siapa saja. Sedangkan dalam dimensi ukhrawi penyakit AIDS merupakan azab Allah yang ditimpakan kepada para penentang aturan-Nya. Bala ini sebagai eksesnya bisa menimpa orang beriman, terlebih-lebih jika orang beriman menyetujui praktik perzinaan walaupun tidak melakukan.

Hadis riwayat Ibnu Majah, Al Bazzar, dan Al Baihaqi, yang dikutip di atas kiranya sangat pas untuk menggambarkan keadaan dewasa ini, dan secara gamblang membuktikan kebenarannya. Kalau dahulu hanya dikenal sipilis dan sebangsanya, sekarang dikenal AIDS. Jika praktek prostitusi semakin merajalela, walau seandainya nanti AIDS dapat disembuhkan, tak mustahil akan muncul penyakit lain yang lebih mengerikan. Na'udzubillah. (ROL)
0 komentar

HIJRAH

Oleh: KH Toto Tasmara

Tak ada kebangkrutan yang paling mendera jiwa, kecuali kita tak mampu mengolah harta sendiri. Tak ada kesedihan yang paling mengharu biru, kecuali kita tak memiliki lagi harga diri. 

Perhatikanlah di sekitar kita, betapa harta dan jati diri sedikit demi sedikit digerus oleh derasnya arus duniawi. Hidup seakan tak ada pilihan, kecuali harta atau mati. 

Karenanya, tanpa merasa berdosa, ada di antara kita yang hidupnya menjadi hamba harta, takhta, dan wanita. Mata hati telah buta.

Keserakahan telah membius diri, seperti binatang lapar yang siap menerkam binatang lainnya. Pantaslah Allah menyebut mereka lebih sesat dari binatang ternak. (QS al-A'raf [7]: 179). Caranya bertutur, bersikap, dan bertindak penuh kontradiksi dengan apa yang diyakininya. 

Kita pandai membuat pernyataan, tetapi bodoh dalam kenyataan. Setiap saat bibir kita basah membaca Surah al-Fatihah agar kita tidak termasuk orang yang dimurkai dan zalim, tetapi perilaku kita seakan menentang apa yang kita ucapkan itu. Lantas, di manakah shalat kita?

Ketika Rasulullah diminta nasihat, beliau bersabda, “Jangan marah.” Namun anehnya, ada di antara kita yang menampakkan wajah penuh amarah, dendam, dan beringas. Di manakah sikap penyantun yang menjadi mutiara akhlakul karimah? 

Ketika Rasul mengatakan, “Muslim itu adalah mereka yang menyebabkan Muslim lainnya selamat dari tangan dan lidahnya,” sebaliknya, kita menentang sabda Rasulullah dengan menampakkan sikap anarkisme, bahkan tak segan merusak sehingga menyebabkan orang lain gelisah dan ketakutan. 

Masih Muslimkah kita? Pantaslah seorang ulama berkata, “Cahaya Islam tertutup karena kelakuan umat Islam itu sendiri.”

Maka, kini saatnya kita melepaskan diri dari belenggu kegelapan untuk menggapai dan menari dalam cahaya Ilahi. Inilah makna hakiki dari hijrah. Mutiara akhlak yang harus dimiliki setiap pribadi Muslim. 

Hijrah yang berarti meninggalkan (at-tarku), berpindah (al-intiqâl, tukhariku) atau berubah (taghyir), adalah perbendaharaan umat yang paling berbinar. Hijrah adalah semangat perubahan yang tak kenal henti. Ia bagaikan ombak samudra yang terus-menerus menerpa pantai.

Hijrah adalah etos kerja untuk meraih cita-cita dan kedudukan mulia (maqaman mahmuda). Hijrah adalah pedang kelewang yang akan menebas segala kegelapan, kebodohan, kemiskinan, dan kebatilan. 

Dengan semangat hijrah itu pula, kita akan mengubah nasib dan melepaskan topeng-topeng buruk yang telah menutupi keindahan wajah dan jati diri kita sebagai pembawa pelita cahaya rahmatan lil alamin. Karena, kita sadar bahwasanya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. (QS ar-Ra'du: 21).

Akan tetapi, hijrah tidaklah berdiri sendiri. Hijrah adalah senyawa iman dan kesungguhan. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”(QS at-Taubah [9]: 20 ). 

Iman, hijrah, dan jihad adalah rumus sukses untuk meraih tujuan. Namun, bagaimana kita akan mencapai tujuan kalau tidak tahu jalan ke mana harus pergi. Maka, kenalilah jalan, raihlah kemenangan. Selamat berhijrah.(Sumber. ROL)
0 komentar

ILMUWAN ISRAEL PUN MENGAKUI MANFAAT PUASA RAMADHAN

Banyak orang yang menghindari menyantap karbohidrat di malam hari. Namun, ilmuwan Israel yang terinspirasi dari puasa bulan Ramadhan memberikan saran yang berbeda. 

Satu tim dari Hebrew University, Israel, mengungkap hasil penelitian setelah mempelajari diet atau pola makan warga Muslim selama bulan Ramdhan. 

Dari hasil penelitian terhadap puluhan petugas kepolisian yang menjalani puasa Ramadhan atau melakukan diet penurunan berat badan, diketahui bahwa menyantap karbohidrat di malam hari justru menurunkan risiko diabetes dan serangan jantung. 

''Ide ini muncul dari penelitian terhadap masyarakat Muslim selama Ramadhan ketika mereka puasa di siang hari dan makan karbohidrat di malam hari,'' ujar Profesor Zecharia Madar, kepala ilmuwan di Kementerian Pendidikan Israel. 

Dia melakukan penelitian terhadap 78 petugas polisi. Setelah enam bulan, para peneliti mengungkapkan adanya tiga hormon yang muncul akibat diet itu, yaitu leptin yang merupakan hormon kenyang; ghrelin, hormon lapar, dan adiponectin, hormon yang mengaitkan antara obesitas, sindroma metabolisme, dan ketahanan insulin. 

Mereka menyimpulkan pola makan selama bulan Ramadhan itu memicu perubahan positif dalam tatanan hormon mereka yang menjalani puasa Ramadhan. Diet itu akan menurunkan tingkat lapar yang pada akhirnya dapat menurunkan berat badan hingga lemak tubuh. 

Mereka yang menjalani puasa juga dapat memperbaiki tingkat gula darah, kolesterol dalam darah, dan menurunkan peluang peradangan. (Sumber. ROL)
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AGAM MADANI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger